Langsung ke konten utama

Cerpen Saya



Perjalanan Menuju Impian
Karya : Habib Ahmad Hasbullah

 
Kutub Utara merupakan tempat yang menyimpan banyak fenomena alam yang mempesona. Salah satu fenomena alamnya yang mempesona adalah Aurora Borealis. Aurora Borealis ini hanya terdapat di kutub utara dan tidak terdapat di tempat lain. Aurora Borealis adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala di langit. Biasanya Aurora Borealis terjadi pada sekitar bulan Maret, April, September,dan Oktober. Atas semua dasar itulah Aku bersama tiga sahabatku yaitu Peter, Travish, dan Adrian pada bulan Oktober lalu pergi mengunjungi tempat yang berada di ujung utara dunia itu untuk melihat Aurora Borealis. Walaupun jarak yang sangat jauh  dari tempat kami berada ini, tetapi kami mempunyai tekad untuk melihat langsung karya Tuhan yang sangat menkajubkan ini.
Pada awalnya Aku ragu kalau Aku bisa melihat Aurora Borealis secara langsung, tetapi karena tekad kami yang kuat ini akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung. Pada bulan Oktober lalu Aku bersama tiga sahabatku ini telah berhasil menyaksikan secara langsung Aurora Borealis yang sangat mempesona itu. Perjalanan yang sangat panjang ini kami mulai dari desa tempat tinggal ku ini, yaitu  Bendungan. Aku Adrian, Peter, dan Travish berangkat dari rumahku tepat tengah malam menuju ke bandara Adi Sutjipto. Pesawat yang kami tumpangi ini mulai lepas landas dari bandara Adi Sutjipto tepat pukul 04.00 pagi. Sebelum langsung menuju ke Alaska, pesawat kami sempat Connecting Flight di bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan Tokyo International Airport di Jepang. Di dalam pesawat yang Aku tumpangi Aku melihat keluar jendela, begitu indahnya perkotaan, pegunungan, dan lautan jika dilihat dari sisi atas. Sungguh… ku hanya bisa terdiam melihat keindahan ciptaan Tuhan yang sebelumnya belum pernahku lihat. Setelah beberapa jam berada di atas awan akhirnya kami tiba di bandara Fairbanks, Alaska tepat tengah malam. Saat kami mulai keluar dari pesawat Adrian tiba-tiba mengalami sesak nafas dan muntah-muntah. Kamipun langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Rencana kamipun berubah, yang semula setelah mendarat langsung menuju penginapan di pinggir kota Fairbanks tetapi kami harus menunggu Adrian yang berbaring lemas di salah satu kamar di rumah sakit itu. Aku bersama Peter dan Travish pun hanya bisa menunggu di luar kamar rumah sakit sambil berdoa, semoga sakit Adrian tidak parah dan dapat segera sembuh agar bisa melanjutkan perjalanan. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya dokter yang merawat Adrian memberitahukan kepada kami bahwa Adrian hanya kelelahan saja, akibat perjalanan yang sangat jauh itu. Kami pun lega mendengar berita itu. Akan tetapi kondisi Adrian tidak memungkinkannya untuk melanjutkan perjalanan. Kamipun tetap menunggu Adrian hingga Ia kembali sehat dan bugar.
Dua hari kemudian, Adrian sudah sehat kembali. Dokterpun memperbolehkan Adrian untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dari rumah sakit Aku, Peter, Travish, dan Adrian pergi ke penginapan yang telah kami sewa untuk mempersiapkan bekal-bekal dan peralatan untuk perjalanan ke tujuan kami.
Keesokan harinya kami dengan didampingi oleh seorang pemandu wisata, mulai berangkat dari kota Fairbanks menuju ke pegungungan di arah utara kota. Dengan baju tebal kami berangkat dengan berjalan kaki, karena lokasi tujuan kami tidak dapat di jangkau dengan menggunakan kendaraan. Pada awal perjalanan kami menuju ke spot yang kami tuju ditemani oleh matahari yang dengan cerahnya memancarkan sinarnya di antara awan-awan putih.
Menjelang siang, saat mulai memasuki hutan tiba-tiba cuaca dan suasana berubah. Tiba-tiba awan hitam datang dan keadaan menjadi sedikit gelap. Hujan salju yang sangat deras pun mengguyur kami dan membuat kami panik. Pemandu wisata kami pun mengisyaratkan kami untuk tenang dan tidak panik. Kemudian Travish dengan mata jelinya melihat ke arah barat dan menemukan sebuah goa yang agak besar dan cukup untuk kami berlima. Pemandu wisata pun mengecek apakah goa itu aman atau tidak untuk tempat berteduh. Karena biasanya goa yang berada di alam bebas banyak terdapat hewan-hewan yang membahayakan manusia ataupun konstruksi goa yang rapuh dan dapat menimpa benda atau orang di dalamnya. Setelah pemandu wisata mengecek ke dalam goa, hasilnya goa itu aman untuk tempat berteduh dari hujan salju yang sangat deras. Di dalam goa sangat gelap, Peter pun berinisiatif untuk membuat api unggun dari sampah alam di sekitar goa.Goa pun menjadi hangat dan tidak gelap lagi. Siang itu pun kami lalui dengan hanya di dalam goa saja sambil mengunggu hujan salju yang sangat deras itu reda. Sambil menunggu hujan salju reda daripada hanya berdiam diri saja kemudian Travish mengajakku untuk melihat-lihat isi goa itu. Saat Aku dan Travish berjalan masuk lebih ke dalam goa tiba-tiba terdengar suara yang keras dari arah dalam goa. Suara itu menyerupai raungan singa yang sangat keras, sehingga membuat kami panik dan berlari menuju ke teman-teman yang lain. Tetapi saat berlari Travish terpeleset dan kakinya tergilir. Adrian, Peter, dan pemandu pun berlari menuju kami dan menolong Travish yang berlari pincang itu. Kami semua pun kemudian berkemas dan meniggalkan goa. Pemandu wisata mancari-cari tempat yang dapat kami gunakan untuk berteduh. Pemandu wisata pun menemukan pohon yang sangat besar dan daun yang sangat lebat sehingga dapat menahan salju jatuh ke tanah. Kami pun berpindah dari dalam goa menuju ke pohon itu untuk berteduh. Kemudian kami membuat api unggun lagi dari ranting-ranting kering yang berjatuhan di bawah pohon itu.
Di bawah pohon itu dan di dekat hangatnya api unggun pemandu wisata menceritakan pada kami tentang mitos makhluk Urayuli atau makhluk mitos sejenis Bigfoot dari Amerika Utara dan Yeti dari Pegunungan Himalaya. Urayuli (Hairy Man) adalah makhluk mitologi yang hidup di daerah hutan Alaska. Urayuli di gambarkan sebagai makhluk dengan tinggi 10 kaki dan memiliki bulu yang panjang, juga mata yang bercahaya. Panjang lengannya juga digambarkan mencapai pergelangan kakinya. Kemungkinan suara yang keluar dari dalam goa tadi adalah suara dari makhluk Urayuli. Tetapi karena Urayuli hanyalah makhluk mitos suara itu mungkin dari binatang penghuni goa seperti rubah merah ataupun beruang kutub. Sambil mendengar cerita dari pemandu wisata, aku membantu Travish membalut kakinya yang tergilir tadi dengan perban.
Menjelang sore hujan salju itupun reda, langit mulai cerah dan matahari kembali memunculkan sinarnya. Kami bergegas bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke spot agar sampai di sana sebelum pagi hari. Tidak lupa kami mematikan api unggun tadi agar tidak terjadi kebakaran. Tas dan peralatanpun kami gendong kembali dan mulai berjalan melajutkan perjalanan.
Sore itu, di sepanjang perjalanan kami bertemu banyak satwa-satwa liar asli kutub utara yang sedang mencari makan. Kami melihat sekelompok rusa caribou yang sedang minum di pinggir danau. Pada tengah danau itu juga terdapat sekelompok angsa tundra yang sedang bermain-main. Aku bersama Peter berinisiatif untuk mengambil gambar rusa caribou yang memiki tanduk unik dan angsa tundra yang memiliki bulu yang putih mempesona itu. Aku pun mengambil kamera dari dalam tas. Saat yang lain hanya melihatnya dari kejauhan, Aku bersama dengan Peter mengendap-ngendap mendekati danau itu dan mencari spot yang bagus untuk mengambil gambarnya. Setelah mengendap-ngendap beberapa saat dan menemukan spot yang bagus untuk mengambil gambar, Aku dan Peter mulai mengambil gambar rusa caribou dan angsa tundra itu. Setelah mendapat banyak foto, Aku dan Peter kembali ke rombongan. Aku bersama sahabat-sahabatku dan pemandu wisata pun kembali melanjutkan perjalanan.
Matahari mulai terbenam dan hari mulai gelap, tetapi kami tetap melajutkan perjalanan. Kami mulai keluar dari hutan dan memasuki hamparan salju yang sangat luas yang dulunya merupakan danau yang membeku selama ratusan tahun. Saat Adrian menengok ke belakang ia banyak melihat dua cahaya kecil kuning yang menyerupai mata. Tanpa di sadari selama perjalanan, kami telah dibuntuti oleh segerombolan serigala lapar. Tanpa pikir panjang kami kemudain berlari secepat mungkin untuk menghindari sergapan serigala-serigala lapar. Tetapi karena kaki Travish yang tergilir, ia hanya dapat berlari dengan terpincang-pincang. Tiba-tiba salah satu serigala dengan kencangnya menyergap Travish dan untungnya hanya kena tasnya saja. Travish pun membiarkan tasnya di ambil oleh serigala itu dan ia pun pergi dengan selamat. Kemudian kami mencari tempat berlindung dan berlari menuju ke hutan di seberang danau beku. Serigala-serigala itu terus saja membuntuti kami. Kemudian kami semua berkumpul melingkar di antara pohon-pohon dan menyalakan api dari ranting-ranting pohon yang kering. Serigala-serigala itu ternyata takut pada api dan menjauh bila ada api. Pemandu wisata berinisiatif untuk membuat obor agar dapat kami bawa selama perjalanam supaya serigala-serigala ataupun hewan lainnya tidak mendekati kami.
Dari kejauhan kami sudah bisa melihat Aurora Borealis itu. Kami pun bergegas untuk melihatnya lebih dekat dan lebih indah dengan melihatnya di spot yang kami tuju. Akhirnya kami sampai juga spot  itu dan perjalanan yang sangat panjang ini telah selesai. Kami tiba di spot melihat Aurora Borealis ini tepat tengah malam. Subhanallah… sungguh indah karya Tuhan ini, batinku. Aku hanya bisa terpana dan terdiam melihat cahaya-cahaya yang menyala-nyala di langit malam itu. Peter, Travish, dan Adrian tak mampu berkata apa-apa, mereka hanya dapat memandangi terus Aurora itu. Setelah itu kami pun berfoto-foto dengan background Aurora. Disaat kami berfoto-foto dan menikmati keindahan Aurora itu, pemandu wisata membuat api unggun dan mendirikan tenda untuk kami. Tanpa di sadari, kami telah  berjam-jam bermain-main sambil menikmati  Aurora. Karena sudah berjam-jam bermain, kami beristrahat dan merilekkan ataupun menghangatkan badan sambil meminum seduhan kopi yang kami bawa dari Indonesia di dekat api unggun. Akhirnya impianku untuk melihat Aurora secara langsung sudah terwujud.
Saat sang surya mulai memunculkan kembali sinarnya, kami bergegas berkemas-kemas dan melakukan perjalanan lagi ke penginapan di Kota Fairbanks. Perjalanan kami kali ini ditemani oleh  banyak wisatawan yang juga dari sekitar spot kami tadi malam. Sepanjang perjalanan langit sangat cerah tanpa awan.
Setelah berjam-jam perjalanan akhirnya kami tiba di Kota Fairbanks. Saat Aku berjalan melintasi sudut-sudut Kota Fairbanks, Aku melihat sebuah poster yang berisi tentang konser Walk Off The Earth. Walk Off The Earth adalah grup band favoritku. Grup band ini adalah grup bang bergenre indie asal Kanada yang populer lewat video klipnya yang ber judul “Somebody That I Used To Know”. Yang mana di video itu ada satu gitar yang dimainkan orang lima dan dapat menghasilkan irama musik yang indah. Menurut poster, konser itu di adakan malam itu juga. Aku pun bergegas menuju sahabat-sahabatku dan memberitahukan tentang konser itu. Sahabat-sahabatku pun meresponnya dengan baik dan mengajakku untuk melihat konser itu.
Malam harinya aku dan sahabat-sahabatku dating langsung ke koser itu. Perasaanku pun sangat bahagia. Setelah melihat Aurora Aku juga dapat berjumpa dengan grup band favoritku itu. Di konser Walk Off The Earth itu aku mendapatkan tempat paling depan. Saat menyanyikan lagu terbarunya yang berjudul “Sing It All Away” Gianni Luminati yang merupakan personil dari Walk Off The Earth itu membagikan album terbarunya dan Aku pun berhasil mendapatkannya plus bersalaman dengan Gianni Luminati. Konser itu berakhir tepat tengah malam. Kami pun kembali ke penginapan dan beristirahat mengisi tenaga untuk perjalanan kembali ke negara asal kami, yaitu Indonesia.
Beberapa hari itu sangat berharga bagiku. Karena dapat melihat langsung Aurora Borealis dan Walk Off The Earth juga dapat bersalaman dengan Gianni Luminati. Akhirnya beberapa impianku dapat terwujud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FOTOGRAFI

  FOTOGRAFI MAKRO CANON 700D LENSA FIX YONGNUO 50MM LOC: RANDU SAWAH COFFEE, KULON PROGO SONY ALPHA 7 MARK II LENSA SAMYANG 50MM LOC : LENDAH, KULON PROGO SONY ALPHA 7 MARK II LENSA SAMYANG 50MM LOC : RA KOPIRAN PANGGUNG KRAPYAK, SEWON, BANTUL CANON EOSM3 LENSA KIT LOC :  WATES, KULON PROGO FOTOGRAFI REMBRANDT CANON 700D LENSA FIX YONGNUO 50MM LOC: RANDU SAWAH COFFEE, KULON PROGO FOTOGRAFI FOOD CANON 700D LENSA FIX YONGNUO 50MM LOC: RANDU SAWAH COFFEE, KULON PROGO CANON EOSM3 LENSA KIT LOC : LOTEK BU MUR, JL. AM SANGAJI, YOGYAKARTA SAMSUNG GALAXY M31 LOC: DUA MASA, BANGUNTAPAN, BANTUL, YOGYAKARTA FOTOGRAFI JALANAN SAMSUNG GALAXY M31 LOC: Jl. JEND. URIP SUMOHARJO, SURAKARTA SONY ALPHA 7 MARK II LENSA SAMYANG 50MM LOC : LENDAH, KULON PROGO SONY ALPHA 7 MARK II LENSA SAMYANG 50MM LOC : PANGGUNG KRAPYAK, SEWON, BANTUL CANON EOSM3 LENSA KIT LOC :  JL. AM SANGAJI, YOGYAKARTA FOTOGRAFI AKSI CANON EOSM3 LENSA KIT LOC : SEKRE WATES, KULON PROGO CANON EOSM3 LENSA KIT LOC : WATES, K...
Iseng-iseng :v